Dongeng di Bazaar Ilmu

On Sabtu, 01 Agustus 2020 0 komentar

Belajar itu tidak harus duduk di kursi dan kedua tangan dilipat di atas meja. Belajar bisa dimana saja dan dengan orang siapa saja. Salah satunya belajar bersama di Ibu Profesional yang sedang dilalui selama kurang lebih hampir satu bulan ini ๐Ÿ™‚ 

Satu pekan belajar bersama Ibu Profesional ini ditampilkan beberapa penjurusan yang bisa kita pilih untuk bisa belajar sesuai dengan minatnya. Dari beberapa yang sudah ditampilkan ini rasa "bingung" mulai menghantui dan semakin galau harus memilih yang mana? Tidak mungkin memilih semuanya karna pasti tidak akan bisa mengatur manajemen waktunya. 

Semakin melihat dan melihat kembali apa yang sudah disajikan dari para pamuwiyata yang dipelopori oleh Bu Peri  dengan mendapatkan ini untuk bisa melanjutkan 



rasa kebingungan yang semakin berkecamuk dan galau berkepanjangan. Tetapi harus memilih dan memilih .. dengan "Bismillahirrahmanirrahim" 

Saya memilih untuk "Selasar Institut Ibnu Profesional* dan *Sejuta Cinta* 

Mengapa memilih keduanya karna background saya seorang guru dimana membutuhkan ilmu yang lebih lagi untuk bisa bermain di playground dan kepulauan yang sangat menarik untuk menetap mendapatkan ilmu selama belajar disini. Dan di Sejuta Cinta sendiri menyajikan ilmu yang bersosialisasi di lingkungan luar bersama teman-teman untuk bermanfaat disana. 

Niatnya belajar dan mudah-mudahan dengan memilih keduanya ilmunya semakin bertambah dan bermanfaat buat diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. 


#FoundationIP_9
#Ibu_Profesional
#Pasar_Ilmu_Ibu_Profesional
#Bahagia_Bersama_Ibu_Profesional
Read more ...»

Aliran Rasa

On Sabtu, 25 Juli 2020 0 komentar

Alhamdulillah sudah satu satu pekan menimba ilmu bersama  teman-teman, ibu-ibu dan wanita-wanita hebat di Foundation 9. 

Satu pekan ini tidaklah mudah saya jalani yang awalnya bingung, gak ngerti dan bahkan mau tanya siapa juga masih bingung karena teman yang dulu di batch 7 tidak ada yang ada atau bahkan karna banyaknya teman jadi lieur sendiri .. heheheh ... Tapi selalu mencoba dan terus mencoba agar bisa tahu bagaimana caranya bisa masuk ke unit 1 sampai ke unit 4.

Awalnya melihat postingan teman yang sudah menyelesaikan unit 1-2 dan aku hanya bisa melihatnya karna selama ini buka Facebook hanya bisa lewat browser tidak langsung ada aplikasinya (maklum tidak punya FB sebelumnya dan baru buat setelah ada Foundation 9 ini) .. dan dulu ketika di Foundation 8 juga begini pengalamannya dan akhirnya ketinggalan penjurusan ๐Ÿคญ

Akhirnya tiap hari ditengah kesibukan membuat video amteri buat di sekolah selalu di sempatkan membuka FBG IP dan melihat percakapan teman-teman bagaimana bisa masuk unit dan bagaimana kalau sudah dibaca dan dipahami langsung klik aja tombol "selesai" .. inilah awaln yang baru di dunia Maya yang baru (apa aku yang gak update sama sosmed) ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Entah itu hari apa dan diwaktu apa aku menemukan percakapan teman yang memberikan penjelasan kalau buka FBG IP bisa di browser tapi tidak bisa masuk unit dan untuk FB yang lite juga gak bisa .. terus aku ikutin aja percakapan itu sampailah dimana ada kata-kata seperti ini

"Kalau bisa download aja Facebook yang biasa bukan yang lite karna nanti akan muncul seperti ini? (Sambil menunjukkan Poto dibawah ini)


Aku gak tahu nama pastinya mbak yang baik hati ini yang memberikan jawaban dari kebingungan aku selama kurang lebih tiga hari dengan hanya bisa buka FBG tanpa bisa mengklik tombol "selesai" dan hanya bisa melihat saja. 

Dari awal saja aku sudah harus bisa memecahkan tantangan dimana bisa mengklik tombol "selesai" di setiap unit. 

Dan berikut nya adalah tantangan dimana kita harus berkelompok dengan membuat challenge tas. Karena buka FBG kemalaman dan bingung juga mau gabung bersama siapa sampai masuk grub dan ditolak karna sudah lima orang. Rasanya sedih iya karna sudah malam dan pikiran juga tidak stabil dengan kesibukan yang lain, akhirnya terus lihat postingan teman-teman dan ketemulah dengan teman-teman yang baik-baik dan super baiknya dimana kita gak harus berlima bahkan lebih dari lima. Tantangan tas ini kita mulai dengan grub yang anggotanya wanita-wanita hebat yang Masya Allah dan sangat kompak tidak pernah menyalahkan dan selalu memebrikan saran dan masukan. 

"Terimakasih teman-teman yang tidak bisa aku sebutakan satu persatu" 

Aku beruntung bertemu dan kenalan dengan kalian yang tengah malam masih membahas untuk challenge ini ☺️ 

Semua akan terasa indah dan ringan apabila dilandasi dengan kerjasama dan saling mau belajar. Dan di Ibu Profesional inilah aku ingin bertemu dengan wanita-wanita hebat lainnya yang sama-sama ingin belajar dan bermanfaat untuk orang lain. 

Mudah-mudahan Istiqomah dalam belajar nantinya untuk di level berikutnya dan insya Allah tidak akan ketinggalan penjurusan ๐Ÿ™‚ 


Bismillahirrahmanirrahim .. tetap semangat 


#FoundationIP_9
#Ibu_Profesional
#Pasar_Ilmu_Ibu_Profesional
#Bahagia _Bersama_Ibu_Profesional
Read more ...»

Foundation 9

On Sabtu, 18 Juli 2020 5 komentar

Alhamdulillah .. saga bertemu kembali di kelas Ibu Profesional dengan tahap awal yaitu Foundation 9 ini ☺️. 

Awal mulanya saya mendaftar di akhir tahun 2017 dan mengikuyi kelas Foundation sampai Matrikulasi di tahun 2018. Karena ketidak sigapan saya jadilah terlambat mengikuti kelas berikutnya. Ketika ada Foundation 8 saya harus merelakan enam bulan tidak mendapatkan kelas sama sekali karena tidak update info-info di FBG IP. Jadilah saya harus menunggu kelas diberikannya dan mendaftar di Foundation 9 ini. 

Saya bisa masuk di Foundation 9 juga tidaklah mudah karena ketika saya herigestrasi belum dapat balasan email dan harus menghubungi adminnya .. setelah itu harus menghubungi IP Depok keterlibatan dalam NIM dan sampailah disini ๐Ÿ™‚ 

Perjuangan ini baru akan dimulai dengan tantangan untuk mendapatkan ilmu yang benar-benar luar biasa ini. Dengan bimbingan para fasilitator insya Allah ilmu yang di terima tidak akan sia-sia untuk ke depannya. 

Mengetahui alur pembelajaran yang dimulai dari tanggal 17 Juli kemarin sampai bulan depan untuk menentukan jurusan dan mulai hari ini masih bingung apa saja yang harus dipersiapkan kecuali tekad untuk belajar dan belajar serta membuka silaturahmi dengan teman-teman baru ๐Ÿ™‚

Mulai hari ini saya akan sering-sering menengok FBG untuk terus mengupdate apa yang harus dipelajari dan apa yang harus disiapkan seperti ini. Jadi apa persiapan untuk belajar di IP Foundation 9 ini 

1. Niat (bismillahirrahmanirrahim)
2. Tekad untuk terus maju bersama IP
3. Manajemen waktu untuk bisa lebih fokus mengerjakan apabila ada tugas
4. Kesigapan dan ketekunan 

Mungkin itu beberapa persiapan yang bisa saya tuliskan untuk memulai belajar lagi bersama IP di tahun ini ๐Ÿ™‚ 


Bismillahirrahmanirrahim ... 


#FoundationIP_9
#Ibu_Profesional
#Pasar_Ilmu_Ibu_Profesional
Read more ...»

Long Distance Learning

On Minggu, 10 Mei 2020 0 komentar

Sudah lama tidak menulis ataupun mengerakkan jari lagi di keybord ataupun hanya ingin menambah kumpulan cerita ... hehehh 

Ini pertama kali aku merasakan mengajar jarak jauh dan anak-anak merasakan belajar jarak jauh bersama aku dengan komunikasi video call secara bergiliran. 

Begini ceritanya ....

Akhir 2019 sudah dihebohkan dengan adanya penyakit terbaru yang menjangkit di negeri China dan sampai menjadi wabah yang namanya Corona atau nama bekennya Covid-19 .. hahahhhh. Di negeri tercinta ini masih adem ayem dari akhir tahun sampai awal tahun dan di bulan kedua. Awal tahun negeri ini digegerkan dengan adanya banjir yang melanda ibukota dan daerah-daerah di sekitarnya yang rawan banjir sampai hampir dua-empat hari dan itu berulang kali sampai bulan Februari. Ternyata ujian Allah itu bener-bener nyata apa masihkah kita mau untuk menjauhiNYA dengan meninggalkan apa yang diperintahkanNYA ??(coba renungkan) 

Bulan Februari di negeri ini masih aman bahkan di sekolah masih diadakan selebrasi keempat dan akan ada outing besar untuk kelas besar di bulan ini juga. Anak-anak dan kami fasil menyambut gembira selebrasi keempat ini karena berbeda dengan biasanya denagn adanya volunter dari Rusia. Jeda dua hari aku harus rela meninggalkan anak-anak demi menemani kelas besar outing ke Way Kambas selama kurang lebih satu minggu. dan setelah pulang dari sana negeri ini masih terlihat aman dan aku masih bisa jalan-jalan bersama teman kesana kesini bahkan ada pertemuan antara aku dengan dia (taaruf) .. cerita yang ini lain kali aja hahahhhh 

Kami masih beraktivitas seperti biasanya ke sekolah, pasar, jalan dan lain halnya .. Awal Maret negeri ini di gegerkan dengan adanya berita salah satu warga dan yang mengejutkan dia di deket sekolah alias orang Depok hahahhh .... Positif Corona dan itu orang pertama kali yang ada di negeri tercinta ini. Lebih herannya sekolah sangatlah heboh apalagi para orang tua siswa (OTS) di hari kedua anak-anak yang masuk tidaklah seratus persen hanya setengahnya saja. dan esok harinya sekolah diliburkan sampai beberapa hari ke depan.

Setelah kembali masuk sekolah anak-anak merasa senang dan bahagia karena bisa ketemu teman-teman, berlarian dan main di playground. Tetapi setelah itu semua kegiatan di luar dioff kan alias ditiadakan selama masa menularnya wabah ini. Dari sinilah awal mula diadakan "Long Distance Learning" (LDL), anak-anak bukan libur tapi belajar di rumah selama dua pekan (pertama) dengan kegiatan dari fasil tetapi meminta bantuan kerjasama dari ots untuk mengirimkan atau melaporkan dokumentasi setiap harinya. 

Hari pertama LDL masih terasa aneh dan aku sebagai fasil harus video call sebagai buka kelas dengan anak-anak atau memberikan informasi kepada anak-anak terkait kegiatan yang akan dilakukan. Setiap hari dua kegiatan yang dilakukan anak-anak bersama ots, itupun ada beberapa ots yang protes karena pemebelajarannya menggunakan bahan yang harus mencari di luar dsb, aku sebagai fasil juga gak mau belajar seperti ini dengan adanya video call yang terjadwal beberapa kali dan berbciara berkali-kali. Itu lebih melelahkan daripada langsung berbicara sekali dengan sejumlah anak besama-sama di kelas. 

Rasanya gimana selama LDL ?? 
Bosan .. pasti 
Kangen .. sudah pasti 

Itu aku rasakan selama kurang lebih hampir tiga bulan ini, dimana ada jarak diantara aku, anak-anak dan teman-teman semua. Padahal banyak rencana yang harus dilakukan selama LDL ini dan smeua itu harus tertudan karena masa pandemi ini. Setiap anak dan ots selalu bercerita kalo kangen, pengen ke sekolah dsb. Sebenarnya aku juga kangen sama kalian nak .. 

Kangen bermain, bercanda, lari-larian, menangkap belalang dsb ... 
tapi semua itu harus kita tahan dulu nak .. entah sampai kapan Allah mengijinkan kita untuk bisa bertemu dan berkumpul kembali bersama. 

Pandemi ini mengajarkan kita apa itu "Sabar" yang sebenarnya dan jarak ini mengajarkan kita untuk lebih mendekatkan kita dengan Allah dan keluarga .. 



@ozora^^



#Corona
Read more ...»

Parenting

On Rabu, 22 Januari 2020 0 komentar

By: Harjanto Halim

Saya diundang ke acara seminar pola-asuh (parenting) di sebuah Sekolah Dasar. Temanya *'Mendidik Siswa Milenial'.* Acaranya jam 9, tapi saya datang terlambat, jam 10 lebih. Saya masuk dari belakang dan duduk di bangku paling belakang, agar tidak mengganggu acara.


Saya menyimak sebentar dan saya langsung tertarik. Pembicaranya seorang *wanita*, seorang *doktor psikologi.* Cara membawakannya santai, bahasanya ringan, dibumbui humor dan kisah lucu. Contoh yang diangkat dari peristiwa sehari-hari; kadang dari keluarganya sendiri, anak-anaknya, kadang dari tingkah polah anak didiknya, mahasiswanya.

Saya sangat suka saat ia menunjukkan sebuah tabel yang memetakan: kelompok usia anak, perkembangan mental di kelompok usia tertentu, siapa yang berperan, dan apa yang terjadi jika pendidikan berhasil.

Di tahap *usia 0-3 tahun* anak belajar tentang *rasa percaya vs rasa curiga.*
Yang berperan adalah *ibu.*
Menghasilkan *rasa optimis.*

*Usia 3-5 tahun* anak belajar *mandiri vs ragu-ragu.*
Yang berperan adalah *ayah dan ibu.*
Menghasilkan *kontrol diri dan motivasi.*

*Usia 5-7 tahun* anak belajar *insiatif vs rasa bersalah*
Yang berperan *ayah, ibu, saudara.*
Menghasilkan *perilaku yang mudah diarahkan.*

*Usia 7-12 tahun* anak belajar *motivasi kuat vs rendah diri.*
Yang berperan *ayah, ibu, guru, teman.*
Menghasilkan *perilaku yg pandai mengelola konflik.*

*Usia 13-19 tahun* anak belajar *identitas diri vs kabur.*
Yang berperan *orang dewasa dan sahabat.* Menghasilkan *perilaku setia, rasa sosial tinggi, stabil, tidak mudah terpengaruh.*

*Usia 20-30 tahun* anak belajar *keakraban vs isolasi.*
Yang berperan *pasangan hidup.*
Menghasilkan *perilaku cinta keluarga.*

Menarik, bukan?

"Maaf, bukannya saya menganggap peran guru sama sekali tidak ada. Saya juga guru," ujar sang psikolog meneruskan paparannya. "Tapi fungsi orangtua, terutama Ayah, tak tergantikan, bahkan oleh seribu guru sekalipun."

Hmm. Orangtua, terutama *Ayah, tak tergantikan seribu guru.*

"Orangtua harus mau berkorban, mengasuh dan menjaga sepenuhnya hingga anak umur 12 tahun, hingga SD," imbuhnya dengan bersemangat.

Okay.

"Karena setelah itu peran teman dan guru mulai membesar..."

Menarik.

"Jadi kalau ada *anak SMP atau SMA nakal atau berulah*, jangan cuman panggil orangtuanya, percuma," ujar sang psikolog mantap. "Panggil siapa?"
Dan kami menjawab serentak, *"Temannya..."*
"Bener!" Sang psikolog manthuk. *"Panggil temannya, sahabatnya, ajak mereka bicara untuk membantu,"*

Hmm...

"Kalo *mahasiswa saya ada yang bermasalah,* malas kuliah misalnya," ujar sang psikolog. "Saya ndak mungkin panggil orangtuanya. Siapa yg saya panggil...?"
Dan kami pun ber-koor, *"Pacarnya!"*
"Bener!" Sang psikolog menganggukkan kepala dengan mantap.

Saya terus menyimak.

Benar apa yang dipaparkan si pembicara, lingkungan yang berperan dalam pertumbuhan mental seorang anak berubah dari waktu ke waktu, sesuai tahapan usia. Awalnya orangtua, lalu keluarga, lalu guru, teman, dan terakhir pasangan hidup.

*"Hampir semua anak selalu ngefans sama papanya.*"Si pembicara meneruskan paparannya. “Mereka akan sangat kecewa saat papanya gagal memenuhi *tiga kriteria utama seorang ayah.* Apa saja itu?," tanyanya dengan nada memancing.

Apa, ya? Saya ndak tahu. Naga-naganya topik ini sudah dibahas sebelum saya datang..

Seorang guru mengacungkan jari.
"Ya, apa saja, Pak?" Si pembicara menuding si bapak guru yang kini berdiri.
*"Mencari nafkah,"* jawab si bapak guru.
"Bener, mencari nafkah."
*"Mendidik karakter,"*
"Ya, bener, dan yang ke-tiga?"

"Umm..." Si bapak guru tidak segera menjawab. Lho, kok ragu?

*"Mencintai istrinya..."*

Oalah.

Saya tersenyum. *Mencari nafkah, mendidik karakter anak, mencintai istri;* tiga kriteria utama seorang ayah, seorang suami. Adakah yang belum kita penuhi?

Saya banyak belajar hari ini.

"Dan yang terpenting dilakukan bukan 'quality time', tapi *'quantity'.* Bukan kualitas tapi kuantitas,"

Maksudnya?

"Lha ndak mungkin tiap kali punya quality time," imbuh si pembicara. "Mosok kita mau bilang gini sama anak, 'Ayo, cepet-cepet, kamu mau ngomong apa sama mama, curhat apa? Ayo cepet, ini mama sejam lagi ada seminar. Cepet, cepet, kita quality time'"

Hahaha, kami ngakak. *Quality time* tidak bisa dipaksa, *disusu-susu*, harus terjadi secara spontan, misterius, dan itu butuh waktu.

*Kuantitas.*

"Sama suami atau istri juga begitu. Mosok mau bilang, 'Ayo, Mah, kita quality time, yuk. Ngomong apa ya, enaknya?'"
Hahaha, kalau diskenario atau dipaksakan, malah garing, mati gaya.

Bubar.

*"Saat kita bisa ngomong, guyon, cerita hal-hal yang lucu, ndak mutu, ndak berkualitas, terus kita bisa tertawa bareng, ngakak bareng, itulah quality time, itulah kualitas,"* tandas sang psikolog.

Bener.

Saat omongan kita, *diri kita tampil rak mutu, quality time tercipta.* Karena saat *'rak mutu'* itulah *kita tampil sebagai pribadi yang seutuhnya, tulus, ikhlas, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling.*

*Itulah kualitas terbaik kita sebagai manusia.*

Saya tersenyum. Saya jadi kangen mendengar *Istri* yang hampir tiap bangun pagi selalu *bercerita tentang mimpinya yang rak mutu.*
๐Ÿ’
(Dalam pola asuh sesuatu yg sepertinya gak bermutu krn sejujurnya justru itu yg ber kualitas, quality time  terbaik itu yg alamiah dan tidak yg di buat2.)๐Ÿ‘
๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ



@ozora^^
Read more ...»

Sedekah

On Jumat, 22 November 2019 0 komentar

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ง๐Ÿ’☘๐ŸŒธ
*Assalamualaikum wr wb.*
๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Alkisah seorang Pengemis Mengetuk pintu Rumah Rasulullah SAW*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Pengemis itu berkata: "saya pengemis ingin meminta sedekah dari Rasulullah."*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Rasulullah bersabda: "Wahai Aisyah berikan baju itu kepada pengemis itu".*

๐ŸŒน๐Ÿƒ *Sayyidah Aisyah pun melaksanakan perintah Nabi...*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Dengan hati yang sangat gembira, pengemis itu menerima pemberian beliau, dan langsung pergi ke pasar serta berseru di keramaian orang di pasar: "Siapa yang mau membeli baju Rasulullah? ".*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Maka dengan cepat berkumpullah orang-orang, dan semua ingin membelinya.*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Kemudian ada seorang kaya namun buta yang mendengar seruan tersebut, lalu menyuruh budaknya agar membelinya dengan harga berapapun yang diminta, dan ia berkata kepada budaknya: “jika kamu berhasil mendapatkannya, maka kamu merdeka”.*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Akhirnya budak itupun berhasil mendapatkannya. Kemudian diserahkanlah baju itu pada tuannya yang buta tadi.*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Alangkah gembiranya si buta tersebut, dengan memegang baju Rasulullah itu, orang buta tersebut kemudian berdoa dan berkata: “Yaa Rabb dengan hak Rasulullah dan berkat baju yg suci ini, kembalikanlah pandanganku... ".*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Masyaa Allah...dengan izin Allah, spontan orang tersebut dapat melihat kembali.*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Keesokan harinya, iapun pergi menghadap Rasulullah dengan penuh gembira dan berkata: "Wahai Rasulullah... pandanganku sudah kembali dan aku kembalikan baju anda sebagai hadiah dariku... ".*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Sebelumnya orang itu menceritakan kejadiannya sehingga Rasulullah pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, padahal biasanya Rasulullah jarang sekali tertawa...*

๐Ÿ’ง๐Ÿ’ซ *Kemudian Rasulullah bersabda kepada Sayyidah Aisyah:*
๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *"Perhatikanlah baju itu wahai Aisyah, dengan izin dan berkahNya, ia telah mengkayakan orang yang miskin, menyembuhkan yang buta, memerdekakan budak dan kembali lagi kepada kita."*

๐ŸŒน *Masya Allah ...*๐ŸŒน

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *Al-Imam as-Suyuti menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa pahala shadaqah itu ada 5 macam:*

*ุฃَู†َّ ุซَูˆَุงุจَ ุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉِ ุฎَู…ْุณَุฉُ ุฃَู†ْูˆَุงุนٍ : ูˆَุงุญِุฏَุฉٌ ุจِุนَุดْุฑَุฉٍ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„َู‰ ุตَุญِูŠْุญِ ุงู„ْุฌِุณْู…ِ ، ูˆَูˆَุงุญِุฏَุฉٌ ุจِุชِุณْุนِูŠْู†َ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฃَุนْู…َู‰ ูˆَุงู„ْู…ُุจْุชَู„َู‰ ، ูˆَูˆَุงุญِุฏَุฉٌ ุจِุชِุณْุนِู…ِุงุฆَุฉٍ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„َู‰ ุฐِูŠ ู‚َุฑَุงุจَุฉٍ ู…ُุญْุชَุงุฌٍ ، ูˆَูˆَุงุญِุฏَุฉٌ ุจِู…ِุงุฆَุฉِ ุฃَู„ْูٍ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฃَุจَูˆَูŠْู†ِ ، ูˆَูˆَุงุญِุฏَุฉٌ ุจِุชِุณْุนِู…ِุงุฆَุฉِ ุฃَู„ْูٍ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„َู‰ ุนَุงู„ِู…ٍ ุฃَูˆْ ูَู‚ِูŠْู‡ٍ ุงู‡ู€*
*(ูƒุชุงุจ ุจุบูŠุฉ ุงู„ู…ุณุชุฑุดุฏูŠู†)*

๐ŸŒน *" Sesungguhnya pahala bersedekah itu ada lima kategori :*๐ŸŒน

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *1) Satu dibalas sepuluh (1:10) yaitu bersedekah kepada orang yang sehat jasmani.*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *2) Satu dibalas sembilan puluh (1:90) yaitu bersedekah terhadap orang buta, orang cacat atau tertimpa musibah, termasuk anak yatim dan piatu.*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *3) Satu dibalas sembilan ratus (1:900) yaitu bersedekah kepada kerabat yang sangat membutuhkan.*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *4) Satu dibalas seratus ribu (1: 100.000) yaitu sedekah kepada kedua orangtua.*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *5) Satu dibalas sembilan ratus ribu (1 : 900.000) yaitu bersedekah kepada orang yg alim atau ahli fiqih.*

๐ŸŒน *[Kitab Bughyatul Musytarsyidin].*๐ŸŒน

*Wallahu a'lam bissowab,*

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ *SEMOGA DENGAN KISAH INI KITA  MENJADI ORANG-ORANG YANG GEMAR DALAM BERSEDEKAH*๐Ÿ‘

*Barokalloh..*
*Aamiin Yaa Robbal 'aalamin* ๐Ÿคฒ

#copas
#Jumatberkah
Read more ...»

Sekolah Dini

On Jumat, 11 Oktober 2019 0 komentar

Bu, anaknya sudah 4 tahun kok belum sekolah?

- ini jawabannya-

๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ

Jika Anak Sekolah Terlalu Dini
(Elly Risman, S. Psi)

1. Keyakinan umum...
* Otak anak usia dini seperti spons, artinya ini masa yg tepat untuk ditanamkan ilmu, agar anak tumbuh cerdas
* Semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang.

2. Sehingga...
Ada ortu yg menyekolahkan sedini mungkin, bahkan ada yg masuk prasekolah diusia 1,5-2 tahun.

3. Mari kita bercermin...
* Apakah kita begitu meyakini bahwa anak harus segera pintar agar siap menghadapi persaingan zaman?
* Apakah kita disiapkan mjd orang tua?
* Apakah memiliki bekal yang cukup dlm mengasuh?
* Bagaimana innerchild diri kita?

4. Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu.

5. Ilmu yg kita miliki untuk mengasuh pun serba tanggung.
Ilmu yg setengah-tengah, berujung pada false belief (keyakinan yg salah).
Sayangnya false belief ini dpt berubah menjadi societal false belief (keyakinan yg salah pd sekelompok orang).
Jika ortu tdk memiliki kemampuan berpikir (thinking skill) yg baik, false belief akibat ilmu yg serba tanggung itu jd pembenaran bersama atas keputusan kita yg keliru.

6. Pintar ada waktunya!
Karena yg berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini hrs jadi anak yg bahagia, bukan jd anak yg pintar!

7. Kita berpikir...
"Kan di sekolah belajarnya sambil bermain"
"Kan anak perlu belajar sosialisasi"
"Kan anak jd belajar berbagi & bermain bersama"
Padahal...
* Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dg beragam orang
* Saat anak diusia dini, otak anak yg paling pesat berkembang adl pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya.

8. Di sekolah, kegiatan anak hanya bermain kok!
Taukah ayah bunda, permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dg ayah ibu jga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet.

9. Di sekolah, mainan lebih lengkap.
Permainan paling kreatif adalah bermain tanpa mainan. Jangan batasi kreatifitas anak dg permainan yg siap pakai.
Contoh: karpet jadi mobil, panci jadi topi.

10. Di sekolah, anak belajar bersosialisasi & berbagi.
Anak <5 th blm saatnya belajar sosialisasi. Ia blm bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama.
Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yg sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2)
Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.

11. Di sekolah, anak belajar patuh pada aturan & mengikuti instruksi.
Aturan & instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yg harus anak ikuti? Apa yg dirasakan anak?
Analogi: Seorang anak <5 thn yg sangat berbakat dlm memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yg banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yg dirasakan anak: pusing!

12. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.
Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa.
Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar.
Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired).
anak yg mengalami BLAST, lebih rentan mjd pelaku & korban bullying, pornografi & kejahatan seksual.

13. Jika si adik ingin ikut kakaknya sekolah...
Sekolah itu bukan karena ikut-ikutan. Anak harus masuk masa teachable moment, krn memang ada anak yg mampu sekolah lebih cepat dr ketentuan umum yg berlaku. Ortu harus mampu mengendalikan keinginan anak. Kendali ada ditangan ortu, krn otak anak belum sempurna bersambungan.

14. Ciri anak memasuki masa teachable moment.
* Menunjukkan minat utk sekolah
* Minat tersebut bersifat menetap
* Jika kita beri kesempatan untuk bersekolah, ia menunjukkan kemampuannya.

15. Kapan sebaiknya anak masuk sekolah?
* TK A → usia 5 th
* TK B → usia 6 th
* SD → usia 7 th
Dibawah usia 5 th, anak tdk perlu bersekolah.

Kebutuhan anak 0-8 tahun adalah bermain & terbentuknya kelekatan.

Jangan kau cabut anak2 dari dunianya terlalu cepat, krn kau akan mendapatkan orang dewasa yg kekanakan.
 -Prof. Neil Postman, The Disappearance Childhood-

Sumber: Yayasan Kita & Buah Hati



#copas
#ozora^^
Read more ...»